Bunga Mawar Untuk DEA
Oleh: Budi 2906
Pagi yang masih hanya berterangkan matahari baru keluar dari peraduannya
telah membangunkan Joko untuk pergi ke sekolah. Hari itu minggu dan tidak ada
jam sekolah seper
ti biasanya, namun hari itu ada sebuah kegiatan yang tersohor di sekolahnya dan menjadi sebuah kerutinan setiap tahun untuk dilaksanakan, dan sebagai awal untuk sebuah perkenalan tentang lingkungan SMA. Kegiatan yang diikuti oleh siswa – siswi kelas 1. Kegiatan itu dilaksanakan selama satu hari satu malam, jadi ada kegiatan menginap di sekolahan. Joko adalah seorang senior di sekolahnya, jadi dia mengikuti kegiatan tersebut. Joko awalnya sudah berencana untuk memberikan sebuah kenang – kenangan untuk orang yang selalu ada dalam angannya, menjadi seorang pujaan hati baginya.
ti biasanya, namun hari itu ada sebuah kegiatan yang tersohor di sekolahnya dan menjadi sebuah kerutinan setiap tahun untuk dilaksanakan, dan sebagai awal untuk sebuah perkenalan tentang lingkungan SMA. Kegiatan yang diikuti oleh siswa – siswi kelas 1. Kegiatan itu dilaksanakan selama satu hari satu malam, jadi ada kegiatan menginap di sekolahan. Joko adalah seorang senior di sekolahnya, jadi dia mengikuti kegiatan tersebut. Joko awalnya sudah berencana untuk memberikan sebuah kenang – kenangan untuk orang yang selalu ada dalam angannya, menjadi seorang pujaan hati baginya.
Sepanjang jalan dia berusaha memantapkan hatinya untuk melakukan
rencananya. Berusaha agar tidak akan gagal untuk hal ini. Dia memang tidak
berharap apa – apa darinya, karena dia tahu kalau pujaan hatinya itu memang
sudah milik temannya Roy. Sesampainya di Sekolah dia disambut hangat teman –
temannya, tidak ada yang tahu tentang rencananya tersebut, karena memang Joko
tidak berniat untuk bercerita kepada siapapun. Setelah dia berjalan memasuki
gerbang sekolah suasana gundah mulai mengisi relung hatinya, Joko mulai ragu
untuk melaksanakan aksinya. Sepanjang jalannya menuju base camp untuk menaruh
peralatannya dia berfikir ulang hingga seperti orang yang baru kehilangan
sesuatu dan berharap untuk menemukannya. Waktu terus berputar sedangkan
perasaan Joko tentang pujaan hatinya selalu berputar – putar dalam ingatannya, dan
Joko pun berusaha menyembunyikan perasaannya agar tidak ada orang tahu.
Kegiatan – kegiatan pun berjalan, joko pun melaksanakan tugasnya.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 sedang Joko yang kebagian tugas menjaga
UKS ternyata lampu di UKS rusak, lalu dia menghubungi kepada Pak Santo. Setelah
dihubunginya pak Santo yang ada di Sekretariat ternyata tidak ada lampu yang
tersisa. Jadi dia berusaha memeras otak, dan Joko teringat kalau ada lampu di
kelas XII Bahasa ada lampu yang tidak dipakai, jadi dia berinisiatif untuk
mengambil lampu disana untuk dipakai di UKS. Keringat pun membanjiri tubuhnya
karena dia kelelahan setelah mengambil lampu tersebut. Kelas XII Bahasa memang
terkenal angker karena disana tidak ada orang dan dekat dengan sebuah pohon
besar yang katanya di huni oleh makhluk lain.
Setelah penerangan dirasa cukup, lalu joko pun istirahat dan mengambil
jatah makannya. Di sela – sela istirahatnya itu Joko masih terbayang apa yang
dia rencanakan tadi pagi. Apa yang sudah dimasaknya dalam hati dan fikiran
hingga memunculkan ide, namun hal yang sudah ada di ambang jalan malah membuatnya
ragu. Joko ingin berbalik saja untuk membatalkan apa yang dia rencanakan. Namun
semangatnya muncul lagi, dia harus melakukannya atau akan menyesal setelahnya.
Dia merasa tidak akan ada waktu lagi untuk kesempatan yang sama dengan hari
itu.
Waktu yang ditunggu – tunggunya pun hampir tiba, karena hari itu ada
acara pentas seni yang diikuti oleh kelompok – kelompok yang telah terbentuk di
acara tersebut. Dan kebetulan Dea, pujaan hati joko pun ikut dalam pentas seni
tersebut. Karena Dea kebagian untuk membantu temannya yang tampil dalam pentas
seni tersebut sehingga dia ada di belakang panggung. Waktupun hampir tiba dan
jantung Joko semakin berdetak kencang, karena Joko semakin takut dengan waktu.
Sekali lagi dia merasa optimis dan keberaniannya muncul lagi. Dia berusaha
untuk mencari sesuatu untuk diberikan kepada Dea. Joko berkeliling ke seluruh sekolah untuk mencari
bunga ataupun sesuatu yang bisa diberikan kepada Dea. Dalam keadaan gelap
gulita dia ditemani dengan sebuah senter Hape yang sangat minim penerangannya.
Namun perasaannya kali ini menang melawan ketakutannya sehingga dia menelusuri
setiap gang sekolah dan akhirnya dia menemukan sesuatu yang mungkin bisa dibilang
romantis. Joko menemukan sebuah pohon Mawar, tanpa rasa ragu sedikitpun
dipetiknya satu tangkai mawar yang sedang berbunga. Mawar merah yang memiliki
filosofi dan umumnya digunakan sebagai tanda cinta. Tanpa dikiranya ternyata
pohon mawar tersebut memiliki duri dan menusuk jari – jari Joko hingga
mengeluarkan darah segar. Namun rasa sakit itu tidaka akan ada apa – apanya
dibandingkan kalau Joko tidak melakukan hal yang sudah direncanakannya.
Dalam perjalannanya menuju panggung terasa sangat berat, terfikir akan
apa yang akan dilakukannya nanti apakah akan membuat Dea sakit hati ataukah
akan ada orang lain tahu sehingga akan membuat masalah di masa setelahnya.
Namun dia berharap dengan sepenuh hati agar apa yang difikirkannya buruk itu
tidak akan terjadi.
Sesampainya di samping panggung, Joko terkagetkan ketika Dea sudah ada
di sana dengan memakai pakaian yang sangat indah hingga membuat Joko terkagum –
kagum. Namun dia merasa sedih yang menghancurkan hatinya karena disana juga ada
Roy kekasih Dea yang sedang menunggui Dea di samping panggung satunya. Joko
merasa ingin memberikan bunga mawar tersebut, namun apakah dia harus membunuh
temannya sendiri dengan bunga yang diberikan atau dia akan membunuh dirinya
sendiri dengan terang – terangan memberikan bunga itu kepada Dea di depan
kekasihnya. Atau Joko akan menghancurkan hubungan Dea dengan Roy yang mana Roy
adalah temannya sendiri.
Akhirnya Joko tidak memberikan bunga itu kepada Dea. Joko hanya duduk
termangu dan berharap akan datang waktu hingga dia mampu memberikan bunga yang
telah dia cari dengan susah payah dengan bersakit – sakitan menahan duri mawar.
Dalam pikirannya dia masih saja merenung kenapa hal yang kurang satu milimeter
saja bisa gagal. Penyesalan sangat tergambar jelas dalam raut wajahnya.
Tapi waktu berkata lain, lama Joko merenungkan nasibnya ternyata Dea ada
di samping panggung menunggu pentas
berakhir. Ternyata waktu masih menyisakan hal baik untuk Joko, Joko masih
berkesempatan untuk memberikan mawarnya kepada Dea. Dan tepat setelah pentas
seni selesai Joko menemui Dea yang sedang bersiap untuk kembali ke base
campnya. “Dea, bunga mawar ini untukmu. Maukah kau menerimanya?” Sahut joko
mulai pembicaraan. “Ini untuk apa kak? Aku jadi bingung”. “Ya terima aja nanti
kalau waktu kan mempertemukan lagi dan kau ingat itu akan aku beritahu”. “Untuk
apa kak?” Tanya Dea mulai penasaran. “Simpan dulu aja, pokoknya ini untukmu. Dan
terima kasih telah menjadi gerimis dalam kegersangan hatiku”. “Maksudny kak?”
Tanya Dea semakin bingung. “Suatu nanti ketika kau mengerti tentang sastra kau
akan mengerti dari kata – kataku tersebut. Sudah ya ku tak punya waktu lebih
lama karena nanti bisa buat orang curiga” Jawab Joko. “Tapi kak?” tanya Dea yang semakin bingung.
“Ingat aja kata – kataku tadi, duluan ya”, jawab joko sambil lalu.
Setelah itu Joko pergi ke belakang panggung dan melihat Dea menemui
temannya dan masih terlihat bingung dari raut wajah Dea. Dan Dea pun akhirnya
pergi ke basecamp sedangkan Joko merasa sedikit tenang karena telah
mengutarakan isi hatinya meskipun Dea masih belum mengerti apa yang di katakan
Joko, namun Joko merasa yakin kalau suatu saat pasti Dea akan mengerti.
Waktupun mulai larut dan telah di waktukan untuk Joko jaga di pos, seharusnya
ada dua orang yang menjaga namun karena
ada teman – temannya yang kebetulan juga belum bisa tidur membuat joko merasa
lebih ramai karena ditemani teman – temannya tersebut. Hingga akhirnya Joko pun
pindah ke pos yang satunya karena disana tidak ada orang yang jaga. Dan dia
merasakan kesendirian, teman –temannya telah tidur. Dengan beralaskan kursi
panjang yang ada di pos Satpam dia memandang langit dan merenungkan apa yang
terjadi pada detik – detik sebelumnya. Dimana waktu yang sangat menegangkan
baginya dan telah menghilangkan separuh beban dalam hidupnya. Sambil memandangi
langit tampak ribuan bintang yang membentuk pola wajah Dea dan membuat perasaan
Joko bahagia.
Tak terasa subuh sudah menjelma
dan datang tanpa di undang. Menyadarkan Joko yang melamun hingga 3 jam, Teman
Joko pun datang menghampiri Joko dan menggantikan tugas Joko menjaga pos. dan
joko pun lalu beranjak dari tempatnya menuju base campnya dan tidur.
Matahari pun membuka mata Joko ternyata sudah pukul 05.00 dan Joko pun
beranjak menuju musholla untuk sholat subuh. Seusai sholat, Joko ikut teman
–temannya untuk bersih – bersih dan menyalakan musik di pagi hari. Setelah usai bersih – bersih semua peserta
pun mulai senam pagi. Dengan semangat pagi Joko pun ikut senam pagi bersama
semua orang.
Setelah Joko senam pagi, diapun beranjak mencari sarapan. Dengan
berlaukkan Mie dan dibungkus dalam sebuah kertas minyak dan ditemani seplastik
teh hangat menjadi sebuah bekal Joko mengawali perjalannya hari ini. Lalu
kegiatannya di awali bersama peserta dengan
jalan – jalan mengelilingi desa Tohyaning sambil melakukan berbagai
aktivitas outbound diantaranya ada menyelusuri sungai maupun halang rintang
yang berisi untuk menguji fisik peserta. Di perjalanan tersebut, Joko mengikuti
Dea yang bersama temannya dari belakang. Dengan penuh harap dia mengikuti Dea.
Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Di perjalanan Joko tertabrak
motor yang dikendarai temannya sendiri, hal itu membuatnya jatuh dan terpental
sejauh 3 meter. Tapi untung Joko tidak kenapa – napa hanya saja celananya sobek
dan itu membuatnya malu kepada Dea.
Perjalanan Joko mulai tidak tenang karena celananya yang sobek. Dan
sesampainya di sekolah dia ditemui Dea yang membawa pesan dari teman Joko. “Kak
ini ada titipan dari teman kakak?”. “Teman kakak itu siapa?” jawab joko pura –
pura tidak tahu. “Ga tau, pokoknya ini tu untuk kakak”. “Ya udah, hanya ini
yang dikasih?” sahut joko ingin tahu. “Em, kak. Maksud dari kakak kemarin itu
apa sih?” kata Dea mulai mengalihkan topik. “Kata yang mana?” Jawab joko pura - pura tidak tahu. “Itu, yang terima kasih
sudah menjadi gerimis dalam kegersangan hatiku. Kan kakak tahu sendiri kalau
aku tu udah punya pacar. Dan pacar Dea sendiri kan temen kakak” kata dea. “ya
aku tahu, kalau Dea sudah punya pacar. Dan itu teman kakak sendiri. Tapi maksud
kakak dari kata kemaren itu hanya ingin memberi tahu kepada adek kalau kakak tu
mau berterima kasih kepada adek, karena adek sudah menghilangkan sakit hati
kakak yang kakak pendam selama ini kepada seseorang. Kakak ga bermaksud dan
tidak punya niat sekai untuk menghancurkan hubungan adek dengan pacar adek. Kakak udah seneng kalo adek udah seneng
meskipun bukan sama kakak. Kakak menyadari hal itu karena setiap orang punya
perasaan yangga mungkin dipaksakan. Dan kakak harap adek tidak memikirkan apa
yang kakak fikirkan, cukup adek fikirkan saja pacar adek. Kalau adek punya
masalah adek bisa bilang ke kakak insyaallah kakak akan bantu.” Jawab Joko
menerangkan. “Ok, makasih kak… Dea kira.............. ya udah Dea mau kembali
ke teman – teman dea dulu” jawab dea yang akhirnya penasarannya terjawab sudah.
Akhirnya Dea pun kembali ke teman – temannya dan Jokopun melanjutkan
kegiatannya dan istirahat tidur di basecamp. Setelah itu pun kegiatan selesai
dan semuanya pulang dengan membawa kesan kecuali Joko yang pulang membawa
kenangan dan melegakan hatinya yang sebelumnya merasakan gundah gulana akibat
memikirkan Dea.
The
End

0 comments:
Post a Comment