pilih bahasa lain juga boleh

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, March 17, 2015

Cerpen : Bunga mawar untuk dea



Bunga Mawar Untuk DEA
Oleh: Budi 2906

mawar

Pagi yang masih hanya berterangkan matahari baru keluar dari peraduannya telah membangunkan Joko untuk pergi ke sekolah. Hari itu minggu dan tidak ada jam sekolah seper
ti biasanya, namun hari itu ada sebuah kegiatan yang tersohor di sekolahnya dan menjadi sebuah kerutinan setiap tahun untuk dilaksanakan, dan sebagai awal untuk sebuah perkenalan tentang lingkungan SMA. Kegiatan yang diikuti oleh siswa – siswi kelas 1. Kegiatan itu dilaksanakan selama satu hari satu malam, jadi ada kegiatan menginap di sekolahan. Joko adalah seorang senior di sekolahnya, jadi dia mengikuti kegiatan tersebut. Joko awalnya sudah berencana untuk memberikan sebuah kenang – kenangan untuk orang yang selalu ada dalam angannya, menjadi seorang pujaan hati baginya.
Sepanjang jalan dia berusaha memantapkan hatinya untuk melakukan rencananya. Berusaha agar tidak akan gagal untuk hal ini. Dia memang tidak berharap apa – apa darinya, karena dia tahu kalau pujaan hatinya itu memang sudah milik temannya Roy. Sesampainya di Sekolah dia disambut hangat teman – temannya, tidak ada yang tahu tentang rencananya tersebut, karena memang Joko tidak berniat untuk bercerita kepada siapapun. Setelah dia berjalan memasuki gerbang sekolah suasana gundah mulai mengisi relung hatinya, Joko mulai ragu untuk melaksanakan aksinya. Sepanjang jalannya menuju base camp untuk menaruh peralatannya dia berfikir ulang hingga seperti orang yang baru kehilangan sesuatu dan berharap untuk menemukannya. Waktu terus berputar sedangkan perasaan Joko tentang pujaan hatinya selalu berputar – putar dalam ingatannya, dan Joko pun berusaha menyembunyikan perasaannya agar tidak ada orang tahu. Kegiatan – kegiatan pun berjalan, joko pun melaksanakan tugasnya.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 sedang Joko yang kebagian tugas menjaga UKS ternyata lampu di UKS rusak, lalu dia menghubungi kepada Pak Santo. Setelah dihubunginya pak Santo yang ada di Sekretariat ternyata tidak ada lampu yang tersisa. Jadi dia berusaha memeras otak, dan Joko teringat kalau ada lampu di kelas XII Bahasa ada lampu yang tidak dipakai, jadi dia berinisiatif untuk mengambil lampu disana untuk dipakai di UKS. Keringat pun membanjiri tubuhnya karena dia kelelahan setelah mengambil lampu tersebut. Kelas XII Bahasa memang terkenal angker karena disana tidak ada orang dan dekat dengan sebuah pohon besar yang katanya di huni oleh makhluk lain.
Setelah penerangan dirasa cukup, lalu joko pun istirahat dan mengambil jatah makannya. Di sela – sela istirahatnya itu Joko masih terbayang apa yang dia rencanakan tadi pagi. Apa yang sudah dimasaknya dalam hati dan fikiran hingga memunculkan ide, namun hal yang sudah ada di ambang jalan malah membuatnya ragu. Joko ingin berbalik saja untuk membatalkan apa yang dia rencanakan. Namun semangatnya muncul lagi, dia harus melakukannya atau akan menyesal setelahnya. Dia merasa tidak akan ada waktu lagi untuk kesempatan yang sama dengan hari itu.
Waktu yang ditunggu – tunggunya pun hampir tiba, karena hari itu ada acara pentas seni yang diikuti oleh kelompok – kelompok yang telah terbentuk di acara tersebut. Dan kebetulan Dea, pujaan hati joko pun ikut dalam pentas seni tersebut. Karena Dea kebagian untuk membantu temannya yang tampil dalam pentas seni tersebut sehingga dia ada di belakang panggung. Waktupun hampir tiba dan jantung Joko semakin berdetak kencang, karena Joko semakin takut dengan waktu. Sekali lagi dia merasa optimis dan keberaniannya muncul lagi. Dia berusaha untuk mencari sesuatu untuk diberikan kepada Dea. Joko  berkeliling ke seluruh sekolah untuk mencari bunga ataupun sesuatu yang bisa diberikan kepada Dea. Dalam keadaan gelap gulita dia ditemani dengan sebuah senter Hape yang sangat minim penerangannya. Namun perasaannya kali ini menang melawan ketakutannya sehingga dia menelusuri setiap gang sekolah dan akhirnya dia menemukan sesuatu yang mungkin bisa dibilang romantis. Joko menemukan sebuah pohon Mawar, tanpa rasa ragu sedikitpun dipetiknya satu tangkai mawar yang sedang berbunga. Mawar merah yang memiliki filosofi dan umumnya digunakan sebagai tanda cinta. Tanpa dikiranya ternyata pohon mawar tersebut memiliki duri dan menusuk jari – jari Joko hingga mengeluarkan darah segar. Namun rasa sakit itu tidaka akan ada apa – apanya dibandingkan kalau Joko tidak melakukan hal yang sudah direncanakannya.
Dalam perjalannanya menuju panggung terasa sangat berat, terfikir akan apa yang akan dilakukannya nanti apakah akan membuat Dea sakit hati ataukah akan ada orang lain tahu sehingga akan membuat masalah di masa setelahnya. Namun dia berharap dengan sepenuh hati agar apa yang difikirkannya buruk itu tidak akan terjadi.
Sesampainya di samping panggung, Joko terkagetkan ketika Dea sudah ada di sana dengan memakai pakaian yang sangat indah hingga membuat Joko terkagum – kagum. Namun dia merasa sedih yang menghancurkan hatinya karena disana juga ada Roy kekasih Dea yang sedang menunggui Dea di samping panggung satunya. Joko merasa ingin memberikan bunga mawar tersebut, namun apakah dia harus membunuh temannya sendiri dengan bunga yang diberikan atau dia akan membunuh dirinya sendiri dengan terang – terangan memberikan bunga itu kepada Dea di depan kekasihnya. Atau Joko akan menghancurkan hubungan Dea dengan Roy yang mana Roy adalah temannya sendiri.
Akhirnya Joko tidak memberikan bunga itu kepada Dea. Joko hanya duduk termangu dan berharap akan datang waktu hingga dia mampu memberikan bunga yang telah dia cari dengan susah payah dengan bersakit – sakitan menahan duri mawar. Dalam pikirannya dia masih saja merenung kenapa hal yang kurang satu milimeter saja bisa gagal. Penyesalan sangat tergambar jelas dalam raut wajahnya.
Tapi waktu berkata lain, lama Joko merenungkan nasibnya ternyata Dea ada di samping panggung menunggu  pentas berakhir. Ternyata waktu masih menyisakan hal baik untuk Joko, Joko masih berkesempatan untuk memberikan mawarnya kepada Dea. Dan tepat setelah pentas seni selesai Joko menemui Dea yang sedang bersiap untuk kembali ke base campnya. “Dea, bunga mawar ini untukmu. Maukah kau menerimanya?” Sahut joko mulai pembicaraan. “Ini untuk apa kak? Aku jadi bingung”. “Ya terima aja nanti kalau waktu kan mempertemukan lagi dan kau ingat itu akan aku beritahu”. “Untuk apa kak?” Tanya Dea mulai penasaran. “Simpan dulu aja, pokoknya ini untukmu. Dan terima kasih telah menjadi gerimis dalam kegersangan hatiku”. “Maksudny kak?” Tanya Dea semakin bingung. “Suatu nanti ketika kau mengerti tentang sastra kau akan mengerti dari kata – kataku tersebut. Sudah ya ku tak punya waktu lebih lama karena nanti bisa buat orang curiga” Jawab Joko.  “Tapi kak?” tanya Dea yang semakin bingung. “Ingat aja kata – kataku tadi, duluan ya”, jawab joko sambil lalu.
Setelah itu Joko pergi ke belakang panggung dan melihat Dea menemui temannya dan masih terlihat bingung dari raut wajah Dea. Dan Dea pun akhirnya pergi ke basecamp sedangkan Joko merasa sedikit tenang karena telah mengutarakan isi hatinya meskipun Dea masih belum mengerti apa yang di katakan Joko, namun Joko merasa yakin kalau suatu saat pasti Dea akan mengerti.
Waktupun mulai larut dan telah di waktukan untuk Joko jaga di pos, seharusnya ada dua orang yang menjaga namun  karena ada teman – temannya yang kebetulan juga belum bisa tidur membuat joko merasa lebih ramai karena ditemani teman – temannya tersebut. Hingga akhirnya Joko pun pindah ke pos yang satunya karena disana tidak ada orang yang jaga. Dan dia merasakan kesendirian, teman –temannya telah tidur. Dengan beralaskan kursi panjang yang ada di pos Satpam dia memandang langit dan merenungkan apa yang terjadi pada detik – detik sebelumnya. Dimana waktu yang sangat menegangkan baginya dan telah menghilangkan separuh beban dalam hidupnya. Sambil memandangi langit tampak ribuan bintang yang membentuk pola wajah Dea dan membuat perasaan Joko bahagia.
 Tak terasa subuh sudah menjelma dan datang tanpa di undang. Menyadarkan Joko yang melamun hingga 3 jam, Teman Joko pun datang menghampiri Joko dan menggantikan tugas Joko menjaga pos. dan joko pun lalu beranjak dari tempatnya menuju base campnya dan tidur.
Matahari pun membuka mata Joko ternyata sudah pukul 05.00 dan Joko pun beranjak menuju musholla untuk sholat subuh. Seusai sholat, Joko ikut teman –temannya untuk bersih – bersih dan menyalakan musik di pagi hari.  Setelah usai bersih – bersih semua peserta pun mulai senam pagi. Dengan semangat pagi Joko pun ikut senam pagi bersama semua orang.
Setelah Joko senam pagi, diapun beranjak mencari sarapan. Dengan berlaukkan Mie dan dibungkus dalam sebuah kertas minyak dan ditemani seplastik teh hangat menjadi sebuah bekal Joko mengawali perjalannya hari ini. Lalu kegiatannya di awali bersama peserta dengan  jalan – jalan mengelilingi desa Tohyaning sambil melakukan berbagai aktivitas outbound diantaranya ada menyelusuri sungai maupun halang rintang yang berisi untuk menguji fisik peserta. Di perjalanan tersebut, Joko mengikuti Dea yang bersama temannya dari belakang. Dengan penuh harap dia mengikuti Dea. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Di perjalanan Joko tertabrak motor yang dikendarai temannya sendiri, hal itu membuatnya jatuh dan terpental sejauh 3 meter. Tapi untung Joko tidak kenapa – napa hanya saja celananya sobek dan itu membuatnya malu kepada Dea.
Perjalanan Joko mulai tidak tenang karena celananya yang sobek. Dan sesampainya di sekolah dia ditemui Dea yang membawa pesan dari teman Joko. “Kak ini ada titipan dari teman kakak?”. “Teman kakak itu siapa?” jawab joko pura – pura tidak tahu. “Ga tau, pokoknya ini tu untuk kakak”. “Ya udah, hanya ini yang dikasih?” sahut joko ingin tahu. “Em, kak. Maksud dari kakak kemarin itu apa sih?” kata Dea mulai mengalihkan topik. “Kata yang mana?” Jawab joko pura  - pura tidak tahu. “Itu, yang terima kasih sudah menjadi gerimis dalam kegersangan hatiku. Kan kakak tahu sendiri kalau aku tu udah punya pacar. Dan pacar Dea sendiri kan temen kakak” kata dea. “ya aku tahu, kalau Dea sudah punya pacar. Dan itu teman kakak sendiri. Tapi maksud kakak dari kata kemaren itu hanya ingin memberi tahu kepada adek kalau kakak tu mau berterima kasih kepada adek, karena adek sudah menghilangkan sakit hati kakak yang kakak pendam selama ini kepada seseorang. Kakak ga bermaksud dan tidak punya niat sekai untuk menghancurkan hubungan adek dengan pacar adek.  Kakak udah seneng kalo adek udah seneng meskipun bukan sama kakak. Kakak menyadari hal itu karena setiap orang punya perasaan yangga mungkin dipaksakan. Dan kakak harap adek tidak memikirkan apa yang kakak fikirkan, cukup adek fikirkan saja pacar adek. Kalau adek punya masalah adek bisa bilang ke kakak insyaallah kakak akan bantu.” Jawab Joko menerangkan. “Ok, makasih kak… Dea kira.............. ya udah Dea mau kembali ke teman – teman dea dulu” jawab dea yang akhirnya penasarannya terjawab sudah.
Akhirnya Dea pun kembali ke teman – temannya dan Jokopun melanjutkan kegiatannya dan istirahat tidur di basecamp. Setelah itu pun kegiatan selesai dan semuanya pulang dengan membawa kesan kecuali Joko yang pulang membawa kenangan dan melegakan hatinya yang sebelumnya merasakan gundah gulana akibat memikirkan Dea.

The End

0 comments:

Post a Comment